Buntut Buruk Konsumsi Steroid, Bisa Merusak Fungsi Testis dalam Kemudian Hari

Suara. com – Tidak hanya dalam dunia medis, steroid juga umum digunakan oleh para atlet ataupun binaragawan non-atletik untuk ‘membentuk tubuh’ mereka.

Namun, belajar baru menunjukkan penggunaan steroid anabolik untuk membangun urat dapat merusak fungsi testis selama bertahun-tahun, bahkan sesudah berhenti mengonsumsinya.

Steroid anabolik merupakan variasi hormon testosteron, hormon seks pria buatan laboratorium.

“Selama ini belum jelas apakah penggunaan steroid anabolik gelap menyebabkan penurunan produksi testosteron di testis dalam jangka waktu lama atau selalu, ” kata penulis menuntut Jon Rasmussen, ilmuwan di Rumah Sakit Rigshospitalet, dilansir CNN .

Mengucapkan Juga: Memakai Masker Tidak akan Pengaruhi Kesehatan, Termasuk saat Gerak Berat

Rasmussen mengutarakan hasil studi ini membuktikan penggunaan obat tersebut sanggup menyebabkan disfungsi testis yang bertahan lama.

Ilustrasi steroid  (Pexels)

Karenanya, Rasmussen mengimbau kepada pria peiat olagraga untuk berhenti ataupun tidak menggunakan obat itu sama sekali.

“Bahkan tak mempertimbangkannya. Penggunaan steroid anabolik dapat menyebabkan efek buruk yang terus-menerus pada kira-kira organ di tubuh serta bahkan bisa mematikan, ” sambungnya.

Penggunaan steorid buatan ini bisa merusak sumbu hormonal hipotalamus-hipofisis-testis, yang akhirnya dapat mengakhiri produksi testosteron di testis dan menganggu kesuburan.

“Pemulihan sumbu hormonal ini mampu dalam jangka panjang atau mungkin tidak sembuh sesuai sekali, ” lanjutnya.

Baca Serupa: Guru Olahraga Ini Goda Murid Rani: Auramu Lebih Indah

Ia menambahkan banyak orang mengira penggunaan steorid anabolik hanya masalah kecurangan dalam olahraga antar atlet ahli.

“Kisah sebenarnya adalah bahwa sebagian besar pengguna steroid anabolik, lebih dari 90%, bukanlah atlet elit. Faktanya, mereka adalah binarawagan yang menggunakan senyawa ini agar terlihat lebih ramping serta berotot, ” tandas Shalender Bhasin, profesor kedokteran lantaran Harvard Medical School.